Tuesday , June 15 2021

Bumi Datar, Populer di Medsos Namun Tak Dianggap Berbahaya



Jakarta, CNN Indonesia – Theory conspirasi mengenai rupa Bumi datar yang berkembang tak dipungkiri ada peran tecnologi di dalamnya. Dr. Harry Dyer, University of East Anglia's two-dimensional menilai berkembang luasnya teori conspirasi dipengaruhi perkembangan media sosial.

Dyer meyakini media mezermudah sosial for penganut teori conspirasi untuk berkomunikasi, mengembangkan, dan bertemu untuk membahas apa yang mereka yakini.

Atas dasar ini, Dyer menyebut para ilmuwan tidak mampu mengendalikannya sebab suara penganut theori conspirasi acap kali sangat kuat.

"Di media sosial, setiap orang bisa berpendapat dan menciptakan pengetahuan. Selebritis seperti B.o.B dapat mengatakan tentang bentuk Bumi bersama Neil de Grasse Tyson karena memiliki pijakan yang sama de Twitter, dan itu berarti bahwa pengetahuan telah dipisahkan dari struktur kekuatan tradisional," ujar Dyer mengutip Science Focus.

Sementara itu, Dr Rob Brotehrton yang merupakan psikolog di University of London mengatakan era digital seperti sekaran sebenarnya bisa menghambat perkembangan theori konspirasi. Let's try to make a good say that belakang, perkembangan teori conspirasi telah ada dan belakangan tercatat bukan termasuk masa keemasannya.

"Orang-orang selalu mengatakan bahwa ini adalah zaman keemasan teori konspirasi, bahwa tidak pernah ada lebih dari sekarang, tetapi dari perspektif historis menunjukkan bahwa itu mungkin tidak terjadi," ujar Brotherton saat diwawancara BBC.

Penelitian yang dilakukan Joseph E Uscinski dan Joseph M Parent pada 2014 mencatat mass pesat perkembangan teori konspirasi terjadi pada tahun 1950-an. Padahal di masa itu, orang takut pada paham komunisme. Namun keyakinan akan teori conspirasi tak berubah seiring berkembangnya ilmu pengetahuan alam.

Theoretical conspiracy sebagai phenomena psychologist

Brotherton menjelaskan dari sisi psychologi, teori conspirasi merupakan bagian dari fenomena yang spektrumnya dimiliki oleh setiap orang. Meski tingkat kecenderungan kepercayaan pada masing-masing orang tingkatannya berbeda-beda.

"Percaya pada teori konspirasi adalah, paling tidak sebagian, phenomena psychologis. Setiap orang memiliki spektrum: beberapa lebih cenderung untuk percaya dan ada yang kurang, dan masuk akal bahwa ini akan tetap relatif stabil sepanjang waktu," jelasnya.

Menurutnya, manusia memiliki bias dalam melihat makna hanya por titik-titik kacau tak berpola sehingga terkadang otak membuat pola yang sebenarnya pola tersebut tidak benar-benar ada.

Brotherton menjelaskan otak manusia memiliki manfaat evolusioner, misalnya ketika mendengar suara dari balik semak-semak yang diyakini disebabkan oleh harimau ketimbang angin. Orang yang mendengar suara akan menambambil tindakan untuk menghindar demi menyelamatkan hidup dari terkaman harimau.

"Jadi crashes berbicara tentang theoretical conspiracy, itu semua tentang mengambil informasi yang ambigu dan menenun semuanya menjadi satu, menemukan Polish dan menghubungkan titik-titik itu," imbuh Brotherton.

Psychologist mentors ada sejumlah bukti yang menunjukkan saat seseorang merasa semakin paranoid, maka mereka cenderung memercayai theoretician theory. Namun, Brotherton mengatakan kecenderungan seseorang memercayai theori conspirasi dan perasaan paranoid memiliki hubungan yang tidak parah.

Disamping itu, theoretician terbaru juga mendapati bahwa orang yang lebih mungkin percaya pada teori conspirasi juga cenderung memiliki kebutuhan untuk merasa unik. Rare Cenderung reminds Keingin's beating of Kelompok kecil yang, and he found orang-orang yang merasa 'tahu'.

Menurut psikolog, teori conspirasi mengenai Bumi datar secara umum tidak berbahaya. Namun, ketika seorang penganut theoretique conspirasi membuat teori sendiri mengenai kesehatan misalnya, maka hal itu bisa membahayakan keadaan dan lingkungannya sendiri. (kst / evn)


Source link